Bijak Memilih Kurikulum Sesuai Dengan Rencana Pendidikan Anak

Baru sekarang saya sempat menulis cerita soal seminar yang diselenggarakan oleh Supermoms Indonesia tanggal 2 Februari yang lalu.

Memang judul seminar ” Mengirim Anak ke Sekolah Internasional : Gengsi ? Mencari Prestasi ? Atau malah membuat anak frustasi ? ” mengesankan seminar ini akan fokus membahas sekolah Internasional. Tapi apakah kemudian seminar kemarin hanya bermanfaat bagi yang resah ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah Internasional ?

Salah satu yang membuat kami, Supermoms Indonesia merasa terharu adalah ketika Bu Elly Risman bersedia meluangkan waktunya untuk hadir di seminar pagi itu. Meskipun hanya sebentar, karena Bu Elly dan putrinya mampir dalam perjalanan mereka menuju ke bandara. Bu Elly sempat memberikan kata sambutan di awal acara ini.

Sama seperti yang beliau sampaikan kepada kami beberapa waktu sebelum kami akhirnya memutuskan untuk mengadakan seminar ini. Saat ini banyak orang tua yag terjebak dalam salah memilih kurikulum sekolah untuk anaknya.

Salah satu contohnya adalah orang tua yang memasukkan anaknya ke sekolah internasional tanpa alasan yang jelas. Bisa jadi sebagian dari mereka memilih menyekolahkan anak mereka di suatu sekolah internasional hanya karena alasan peer-pressure, supaya kelihatan lebih bergengsi, mengira prestasi sekolah Internasional sudah pasti lebih bagus daripada sekolah nasional atau ingin agar anaknya kelak bisa bersaing dalam era globalisasi.

Kalau hanya salah memilih sekolah, mungkin bisa dipindahkan ke sekolah lain yang lebih sesuai. Namun bagaimana jika sedari awal salah memilih kurikulum sekolah, tentunya anak akan kerepotan beradaptasi dengan kurikulum sekolah yang baru.

Pemilihan sekolah dan hidden kurikulum juga sangat penting dalam pola pengasuhan anak. Jangan sampai pola pengasuhan yang kita terapkan kepada anak di rumah ternyata berbeda jalur dengan apa yang diajarkan di sekolah.

Karena itulah Supermoms Indonesia, tertarik untuk menyelenggarakan seminar dengan tema ini. Namun, dengan kerendahan hatinya, Bu Elly Risman merekomendasikan orang lain untuk menjadi pembicara dalam seminar ini.

Seseorang yang mempunyai pengetahuan yang cukup, berpengalaman lebih dari 7 tahun di bidang akademis serta memiliki kemampuan yang lebih untuk membahas secara jelas mengenai kurikulum sekolah yang ada di Indonesia saat ini.

Dan orang yang beliau rekomendasikan adalah Bapak Faisal Sundani, LC, M.Ed.

Saat ini sebenarnya Bapak Faisal Sundani berdomisili di Malaysia. Namun begitu mengetahui adanya jadwal beliau berada di Jakarta awal February yang lalu, kami tanpa ragu-ragu langsung meminta kesediaan beliau untuk menjadi pembicara di seminar kami.

Sepaham dengan apa yang disampaikan oleh Bu Elly Risman, Pak Faisal mengatakan bahwa saat ini banyak orang tua yang terlanjur terjebak memasukkan anaknya ke kekurikulum yang tidak sejalan dengan cita-cita akademik anak.

Misalnya, seorang bapak lulusan Teknik Mesin dari salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Bandung berniat mengarahkan anaknya agar kelak kuliah di kampus yang sama. Sang Ibu tentu aja mendukung cita-cita suami tercinta.

Namun, saat teman-teman di sekeliling sang Ibu kemudian berbondong-bondong memasukkan putra-putrinya ke salah satu sekolah Internasional yang cukup terkenal, Sang Ibu tidak mau ketinggalan. Dengan harapan kelak anaknya bisa dengan mudah bersaing dalam era globalisasi. Apalagi bahasa pengantar yang dipergunakan dalam sekolah itu adalah bahasa Inggris.

Yang belum disadari oleh sang Ibu adalah :

1. Tidak semua sekolah yang mempergunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar adalah sekolah internasional

2. Jika tetap berkeinginan agar anaknya masuk ke salah satu PTN di Indonesia, maka anak harus tetap belajar di sekolah dengan kurikulum DikNas yang berlaku.

Pada zaman dimana saya dibesarkan dulu, orang tua biasanya memilih sekolah untuk anaknya hanya berdasarkan seberapa banyak siswa yang lulus dan diterima di jenjang sekolah negeri unggulan di atasnya. Atau bisa juga alasan karena kakak si anak sudah disekolahkan di sekolah yang sama.

Hal ini sedikit berbeda dengan zaman dimana saya berperan sebagai orang tua yang mencari sekolah sesuai dengan kebutuhan anak saya. Dan dilema itulah yang saya alami dua tahun yang lalu.

Ada banyak hal yang saya pertimbangkan sebelum akhirnya memilih sekolah yang tepat bagi Athia, anak saya. Namun terus terang, pada saat itu, saya belum menguasai masalah  pentingnya kurikulum dalam pemilihan sekolah.

Padahal seperti yang kita ketahui, zaman sekarang banyak sekolah yang menawarkan kurikulum dan metode pengajaran yang beraneka ragam. Jangankan memilih sekolah dengan kurikulum yang sesuai, saya bahkan belum sepenuhnya paham dengan apa yang dimaksud dengan kurikulum.

Saya juga sering mendengar kata silabus dalam sekolah, namun lagi-lagi kurang paham seperti apa bentuk silabus.

Kurikulum, silabus, mengapa pada akhirnya kurikulum internasional menjadi pilihan, mengapa bertahan memilih kurikulum nasional, apa perbedaan kurikulum IB dengan IGCSE, bagaimana cara mendapatkan kurikulum internasional namun dengan harga yang lebih terjangkau merupakan beberapa contoh informasi penting yang saya terima dari penjelasan Pak Faisal.

Ternyata Pak Faisal tidak hanya mengupas mengenai kurikulum internasional, kurikulum nasional pun ikut dibedah dari sisi positif dan negatifnya.

Dari informasi Pak Faisal pula lah, wawasan saya sebagai orang tua terbuka. Bahwa tidak semua anak berbakat akademik. Sebenarnya ada juga anak yang tidak berbakat akademik.

Misalnya jika kita menemukan anak kita dengan prestasi akademis yang biasa-biasa saja. menanjak seperti anak-anak yang lain. Walaupun digenjot belajar habis-habisan, namun tetap saja prestasinya tidak menanjak. Namun di lain hal, jika dicermati anak ini ternyata memiliki kemampuan yang di atas rata-rata di bidang bukan akademik.

Masalahnya, dalam masyarakat kita saat ini masih menganggap tolak ukut keberhasilan seorang anak adalah jika dia berhasil menamatkan pendidikan di tingkat universitas.

Dalam seminar ini pula, Pak Faisal memberikan kepada peserta seminar beberapa tips memilih sekolah untuk buah hati kita. Wah, ternyata ada banyak hal yang terlewatkan oleh saya sewaktu memilih sekolah untuk Athia. Padahal saya sangat setuju bahwa point-point yang disampaikan oleh Pak Faisal itu sangat penting dalam menentukan sekolah.

IMG_20130202_121712

Pak Faisal di tengah Supermoms Indonesia

Pak Faisal di tengah Supermoms Indonesia

Sepulang dari seminar kemarin, banyak sekali hal baru yang mencerahkan sekaligus mengubah pandangan saya dalam memilih sekolah untuk Athia. Saya semakin mantap dengan apa yang saya yakini.

Kriteria sekolah yang saya incar bisa jadi berbeda dengan kebanyakan orang tua. Akan tetapi hal ini didasari oleh sesuatu yang saya yakini bahwa inilah yang sesuai untuk kebutuhan Athia dan sejalan dengan tujuan pengasuhan kami.

Awal persiapan seminar ini, jujur saya menyangka akan mendapat informasi yang lengkap bagi ibu-ibu yang hendak memilih sekolah Internasional, tetapi saya tetap berpikir bahwa seminar ini tetap akan memberikan wawasan baru untuk saya, walaupun saya tidak memilih sekolah internasional.

Dan ternyata saya memang tidak salah.

Bahkan saya mendapatkan banyak informasi baru mengenai akademis melebihi yang saya kira. Karena Pak Faisal benar-benar mengupas semua dengan tuntas dan bersedia menjawab semua pertanyaan peserta yang menyangkut sekolah. Sayang sekali,dikarenakan keterbatasan waktu sehingga tidak semua pertanyaan mampu dijawab saat seminar kemarin.

Karena kami merasa informasi yang disampaikan Pak Faisal sangat penting, maka kami pun menyayangkan para orang tua yang telah melewatkan seminar kemarin.

Sebagai salah satu bentuk kepedulian Supermoms Indonesia akan pendidikan anak yang tentunya berkaitan erat kepada pengasuhan anak dan juga masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab oleh Pak Faisal, maka kami pun berencana menyelenggarakan seminar ” Bijak Memilih Kurikulum Sesuai Rencana Pendidikan Anak “.

IMG-20130305-WA0004

Tentu saja, masih dengan pembicara yang sama, namun dengan pembahasan materi yang lebih diperbaharui.

Materi disesuaikan dengan kebutuhan para orang tua zaman sekarang sehingga tidak terombang-ambing dalam kebingungan memilih banyaknya kurikulum dan metode pengajaran yang ditawarkan oleh sekolah.

Dimana ?

Lokasi strategis banget, dapat dijangkau oleh kendaraan umum dari segala penjuru.

Di gedung BPPT Ruang komisi 1 & 2, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta Pusat

Biaya Pendaftaran ?

Rp 100.000

Bagaimana cara mendaftarnya ?

Silahkan kirim email ke pendaftaran@supermomsindonesia.com dengan melengkapi nama peserta, no HP yang bisa dihubungi serta alamat email.

Atau bisa melalui SMS ke nomor : 08117334556

Kapan ?

Catat di kalendar Anda supaya tidak lagi ketinggalan dan pastikan hadir di seminar ini pada hari Sabtu, 20 April 2013.

Jangan sampai Super parents melewatkan kesempatan untuk yang kedua kalinya, menggali lebih banyak informasi mengenai kurikulum dan panduan memilih sekolah untuk buah hati.

Selain seminar, kita juga bisa berdiskusi dengan Pak Faisal. Jadi siapkan pertanyaan yang menyangkut hal akademis anak kita bisa untuk didiskusikan dengan Pak Faisal di seminar nanti.

Makanya buruan daftar ya. Karena seminar ini terbatas hanya untuk 100 peserta saja.

*ditulis oleh salah satu anggota Supermoms Indonesia community*