Oleh-oleh Dari Sesi 1 #tetralogy

Seminar sesi 1 dari rangkaian seminar #tetralogy telah berlangsung pada 1 September 2012, kami dari Supermoms sangat bahagia pada antusiasme super parents untuk bersama-sama kami belajar dan berbagi ilmu.

Untuk itu kami ingatkan kembali bahwa twitter/social media dan terutama dunia maya adalah dunia tidak bertepi, siapa saja bisa mengakses informasi-informasi di social media, juga anak-anak kita. Karena materi seminar kemarin penuh dengan konten dewasa, baiknya konte-konten yang sangat memprihatinkan biarlah menjadi bahan perenungan kita sebagai orang tua, biarlah konten-konten tersebut tetap di kepala&hati; kita,tidak perlu keluar di social media, krn rasa ingin tahu anak-anak&remaja; sgt besar, semoga apa yang kita ingin jadikan kebaikan tidak menjadi bumerang untuk anak-anak kita..

Berikut adalah rangkuman seminar sesi 1 yang ditulis dengan sangat bagus, sangat padat dan sangat menyentuh oleh salah satu anggota Supermoms Community, INDAH KURNIAWATY, selamat membaca dan semoga bisa diambil manfaatnya..

Pertanyaan pembuka dalam seminar Session 1 adalah Siapa yang di antara peserta sudah memberikan handphone kepada anaknya dan apa alasannya ?

Beberapa peserta jujur mengacungkan jari.
Ada yang memberikan HP Samsung bahkan memberikan fasilitas Blackberry kepada anaknya.

Alasannya pun bermacam-macam.
Ada yang ingin memudahkan komunikasi dengan anak karena anaknya tinggal di kota yang berbeda.
Ada pula yang memberikan hape ini ke pengasuhnya.
Ada yang karena ingin menstimulasi anak dengan applikasi dalam handphone tersebut.

Alasan kenapa Bu Elly menanyakan hal tersebut seiring dengan fakta yang ingin ditunjukkan Bu Elly Risman ke kami bahwa modus operandi dalam mendekati anak-anak kita

1. Miss-call, sms, BBM
Udah pernah denger kan kasus anak remaja wanita yang berkenalan dengan pria tak dikenal di Fesbuk, kemudian diajak ketemuan dan akhirnya diperkosa beberapa waktu silam ?

Ada lagi kasus lain yang gak kalah serem.
Seorang anak perempuan yang kurang perhatian dari orangtuanya mendapat satu sms nyasar. Dari sms nyasar itu somehow kok malah berlanjut jadi kenalan dan akhirnya sering berkirim sms dengan si pelaku nyasar.
Setelah lama saling sms-an, si pelaku mulai berani menanyakan alamat rumah sang anak dengan alasan ingin mengirimkan hadiah.

Yah…jangankan anak-anak. Kita yang udah tua ini aja masih suka tegiur dengan iming-iming hadiah. *tutup muka sendiri*
Dalam waktu 2 bulan setelah sering berkirim sms tadi, anak perempuan tersebut diperkosa oleh sang pelaku.
Dan saking gilanya, ternyata sang pelaku sampai ngontrak sebuah rumah yang berjarak selang 11 rumah dari rumah sang korban.

2. Dipaksa oleh pacar
Alasannya : karena pengakuan sang kekasih, hampir semua anak laki-laki dalam genknya sudah melakukan itu. Cuma dia aja (pacarnya) aja yang belon nyobain.
Makanya sang cowok minta diberikan kesempatan untuk merasakan itu dengan anak cewek. Kalo gak diturutin, tuh cewek akan diputusin dan milih sama yang mau aja. Cetek banget emang. *rasanya pengen gw bikinin penyet tuh cowok yang ngomong gitu*

Beuuuh, padahal anak itu baru juga umur 13-15 tahun dan belum pernah ngerasain aja udah komplain. Gimana temen gw yang masih menjomblo dan sekarang berusia lebih dari dua kali umur anak tadi ? *oopsss…*

3. Dijual oleh teman, tetangga.
Kadang uang membutakan mata kita termasuk mata hati.
Sehingga sanggup membuat orang di dekat kita tega melakukan ini. Udah banyak banget kan beritanya di TV.

Selanjutnya.
Tsunami pertama yang gw rasakan di awal seminar adalah saat Bu Elly menunjukkan slide yang berisi sms yang ditemukan di ponsel seorang anak remaja wanita :

SMS remaja yang dipresentasikan oleh Bu Elly dalam seminar kemarin
Yep, alay bin surelyalay banget.
Adakah di antara teman-teman yang langsung bisa baca sms tersebut ?

Sama ! Toss ! Gw juga tadinya bingung baca sms gituan.

Gw yang tadinya udah memproklamirkan sebagai ANTI-4L4Y 4EVAH kayaknya harus berpikir ulang deh. Sepulang dari seminar, gw bertekad harus menguasai dunia anak gw nanti. Termasuk bahasa Alay ini, jika emang dirasa perlu.

Ternyata begini nih cara pandang untuk membaca sms alayumgambreng:

ternyata cara bacanya dengan membalikkan HP
Gw terjemahin ya :
My Luppi..
Thanks ya udah mo nyoba, bener khan sakitnya cuman sebentar..
besok ku ke rumahmu
Kita coba lagi ya
Ku beliin pengamannya, mau rasa apa.

DEZIIIIIGGG!!!!!

Saat ngerti baca SMS tadi, gw merinding dari ujung kaki sampe ujung rambut.

SUMPEY LOE!
Jaman gw SMP, senakal-nakalnya temen gw adalah makan 4 gorengan, tapi ngakunya cuma makan 2 gorengan! Ato paling badung ngebolos, ngerokok ato gak pernah bikin PR.
Kebayang gak sih kalo loe ada di posisi Ibu yang menemukan sms ini di HP putrinya ?? Buah hati loe yang baru menginjak remaja ???

Siapa yang diantara kita yang suka menerima sms-sms penawaran “asusila” ?
Sekarang dengan teknologi BB yang sudah menyebar ke kalangan anak-anak, mereka pun menerobos ke PIN BB anak kita dengan mengirimkan broadcast message kayak gini :

Add: A39XX8FX
Namanya si C…BFF gua..Anaiknya baik, gokil, kece, enak diajak curhat, ngalah selalu…Big Fans of SNSD & 2PM ga add nyesel 100%
#sorryBM
#keepselo
#nodelcont

Book, kalo gak dijelasin Bu Elly Risman di seminar itu, gw MahMud alias Mama Muda so called masih eksis ini aja kagak ngarti #nodelcont itu No Delete Contact, #keepselo itu artinya Keep Slow aje. Gimana kalo emak-emak buta technology ? Emak-emak yang udah gak keep up dengan dunia zaman sekarang ??

Kesian ya kita orang tua. Padahal gimana caranya kita mau memonitor anak kita kalo bahasa kode mereka aja kita gak ngerti ??

Dan gw baru ngeh. Beberapa hari sebelum seminar, keponakan sepupu gw yang ABG itu ngaku BBnya pernah dihack oleh temennya dan ngirimin gw BM kayak gini :
(+) Prat*w* K 3*SHS good loking. PIN : 20X7EX98 #sbc (yang kemudian gw tau artinya Sorry BroadCast)

Artinya buat gw apa ?
Apa yang diutarakan Bu Elly di seminar itu bukan rekayasa, bukan cuma isapan jempol belaka tapi emang beneran nyata. *makin lemes badan gw*

Ada beberapa media dimana anak biasanya mengakses pornografi :
1. Situs Internet : 21 %
Teman-teman yang udah memasang wifi di rumah atau menyediakan fasilitas internet di rumah agar memudahkan anak berselancar di dunia maya, sudah pernah belon mendampingi mereka saat mereka mengakses internet ?
Apakah kita sudah yakin tau dan kontrol situs apa saja yang mereka buka ?
Apalagi jika anak-anak kita mengakses internet dari warnet.
Apakah kita tau situs apa yang mereka buka tanpa sepengetahuan kita ?

Dengan perang promo dari para provider telepon seluler , anak-anak menjadi lebih mudah mengakses internet melalui telepon genggam yang kita berikan padanya.
Tapi taukah anda bahwa 4% dari anak yang suka mengakses pornografi dari internet, mengaku mengakses situs tersebut dari HP yang diberikan orang tuanya ?

2. Games : 14%
Dengan maraknya gadget yang dipasarkan di market Indonesia, adalah wajar jika kemudian muncul banyak pertanyaan ” Kapankah usia yang tepat memberikan gadget kepada anak-anak kita ?”

Memberikan gadget kepada anak-anak bahkan anak-anak di bawah 1 tahun nampaknya sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan middle up.

Berbagai macam alasan diberikan, namun alasan yang paling sering diutarakan adalah untuk memperkenalkan technology sedini mungkin kepada anak,
memperkenalkan anak dengan games-games dan aplikasi yang diinstal di gadget untuk merangsang perkembangan otak anak.

Sebelum kita membelikan, memberikan games ato applikasi ke anak-anak,
• sudahkah kita terlebih dahulu memperhatikan label pada cover depan games / applikasi tersebut ?
• Apakah games / applikasi tersebut memang sesuai untuk dimainkan oleh anak-anak seusia anak kita ?
• Yakin tidak ditemukan 18+, M (Mature / dewasa) ?
• Apa sih yang bisa didapatkan anak kita dengan bermain games/applikasi tersebut ?
Bu Elly menyebutkan beberapa games yang sarat dengan kekerasan dan diselipi dengan pornografi.
Pernah terpikir gak oleh kita sebagai orang tua, bahwa kekerasan dalam games ini bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak waktu tawuran ?

Soalnya kurang lebih senjata yang dipergunakan dalam tawuran yang baru-baru ini merenggut nyawa itu, sama banget dengan yang dipake dalam games-games yang sering dimainkan oleh anak-anak.
Nah Lho ! Nah Lho !

Mungkin karena mereka terbiasa memainkannya dalam dunia maya, sudah gape (jago) dan butuh sesuatu yang lebih menantang. Makanya mereka pengen nyobain memainkannya dalam dunia nyata.

Pernah liat cover depan yang nampak cuma sekedar games Car Racing ?
Tapi pernahkah kita mencoba memainkannya dulu sampai tamat untuk mengetahui isi games tersebut sebelum kita menyerahkan kepada anak kita ?

Dalam games yang keliatannya cuma Car Racing tadi, ternyata anak harus melakukan pencurian mobil dulu, melakukan adegan kekerasan. Parahnya lagi, di akhir permainan, pemenang mendapat hadiah boleh bercinta dengan wanita PSK.
Setiap hari jiwa dan otak anak kita biarkan bermain yang seperti itu, apa gak rusak otak dan jiwanya ? Dan kita gak sadar menjerumuskan anak kita sendiri ?

Gw sepertinya tergolong orangtua yang paling medit di antara temen-temen gw karena gw belum beliin Athia gadget khusus untuk memudahkan dia maen games, menstimulasi otaknya.
Selaen karena emang gak punya duit :p, juga karena gw dan Hani sama-sama gak suka maen games. Baik di handpohone, komputer, ato perangkat lain seperti PS dkk.

Mungkin karena orangtua kami juga menerapkan hal yang sama. Sewaktu kecil kami gak pernah dibelikan Playstation, Nitendo dkk seperti halnya teman-teman kami yang lain.
Walopun gw pernah nangis minta dibeliin tapi alm bokap gw #Keuekeuhjaya gak mo beliin.

Jadilah sampe sekarang, gw gak terbiasa membunuh waktu dengan maen games. Karena emang gak pernah terbiasa, jadinya sampe sekarang gak tertarik.

Gw lebih suka membaca buku.
Karena kebutuhan gw akan membaca, apa aja yang didepan mata akhirnya gw lalap jadi bacaan. Koran langganan bokap gw, buku-buku yang dibeliin termasuk buku-buku koleksi bokap gw.
Oh ya, nyokap bokap sama-sama suka membaca.

Dan saking iritnya (maklumlah bokap gw cuma abdi negara), jarang banget gw dibeliin novel, komik.
Paling banter gw cuma dilangganin majalah Bobo. Selebihnya gw dibeliin buku-buku macam RPUL, Buku Pintar karangan Iwan Gayo itu lho. Dari yang tipis sampe yang edisi lebih tebel. Makanya waktu kecil, gw lebih menonjol di bidang ilmu sosial gw dibanding ilmu pasti.

Walopun mungkin gw gak sekreatif anak yang sedari kecil udah terbiasa dengan games-games pengasah otak, well at least gw masih bisa survive kan dalam hidup ini. :p

Gw dan Hani mungkin masih menganut paham konvensional. Yang lebih suka mengajak Athia bermain ato beraktivitas di outdoor, bermain di bawah sinar matahari, lari-lari menendang bola dalam lapangan rumput daripada menendang-nendang bola di dalam applikasi gadget.

Menurut Bu Elly lagi, pada anak-anak usia 0-7 tahun, anak-anak kita seharunsya diperkuat rangsangan sistem limbik nya terlebih dahulu.
Karena pada usia dibawah 7 tahun, otak-otak syaraf otak mereka belum bersambungan, belum siap menerima hal-hal yang berbau kognitif.

Itulah mengapa zaman dulu pemerintah menetapkan usia masuk SD adalah 7 tahun. Karena pada usia segitulah anak sudah siap menerima logika kognitif di SD.

Sementara anak belum siap menerima logika kognitif, inilah saatnya kita mempertebal sistem limbik nya terlebih dahulu.
Yaitu dengan mengajarkan dan menamakan emosi pada anak. Hal ini pernah gw pelajarin dalam Pelatihan Komunikasi Anak seperti yang udah gw share di sini dan seminar yang dulu.

Jika kita melewatkan rangsangan untuk sistem limbik anak dan langsung bablas memperkuat rangsangan logika kognitif anak, anak kita mungkin akan tumbuh jadi menjadi pintar.
Tapi di tahap kedua dalam perkembangan anak, yaitu usia 7 – 14 tahun orang tua siap-siap anak menuai anak yang tidak bisa berempati, egois, berontak dan susah bersosialiasi.

Padahal tujuan kita mengasuh anak bukan hanya menjadikannya ahli dalam hal professional.
Dengan digembar-gemborkannya sekolah kualitas Internasional, IB blablabla sederet pengakuan sistem ini itu, dll, membuat kita terkadang hanya fokus mikirin finansial planning demi mencapai tujuan menyekolahkan anak di sekolah terbaik.
Tapi kita lupa dengan tujuan-tujuan pengasuhan lain yang gak kalah penting:
• menjadi anak yang sholeh / sholehah (jika non muslim : takut Tuhan)
• Sebagai calon suami agar bisa mendidik istrinya
• Sebagai calon ayah agar bisa mendidik anaknya
• barulah menjadi profesional yang ahli dan bermanfaat bagi lingkungan
• Mengayomi
Intinya : pastikan kita memberikan rangsangan / stimulasi ke anak yang sesuai dengan perkembangan usianya, .

3. Film, Sinetron, VCD / DVD
Siapa yang sering ngajakin anaknya ke bioskop ikut nonton pelem-pelem superhero tapi ada adegan syur ? *warta kota Mode ON*
Siapa yang suka membiarkan anak nonton pelem-pelem konsumsi dewasa ?
Sinetron Indonesia yang sama sekali gak memberikan makna apa-apa, gak ngasih edukasi apa-apa kecuali ujung-ujungnya mesum ato pacaran cinta-cintaan ?

Amati aja perfilm-an dan pertelevisian Indonesia.
Genre film seperti apa yang lebih banyak menarik penonton untuk datang ke bioskop ? Film horor diselingi adegan-adegan syur ?
Termasuk film-film abege yang sama sekali gak mendidik.
Yang so called menceritakan realita kehidupan Abege zaman sekarang yang mulai meninggalkan akidah afgdan moral.

Dan kita membiarkan tontonan seperti ini dikonsumsi anak kita, tanpa disaring terlebih dahulu ?

Dan jangan salah lho…bahkan film kartun yang kita sangka aman itu pun ternyata bisa mengandung unsur pornografi.
Seperti salah satu tokoh kartun yang akhir-akhir ini digemari anak-anak cowok (ini termasuk dengan games onlinenya ternyata juga XXX).

4. Komik : 13 %
Coba cek deh kolong bawah tidur ato bawah bantal anak kita.
Buka dan baca komik yang dibaca anak kita.
Jangan terkecoh dengan sampul depan yang nampak seperti komik baik-baik. Karena bisa jadi di dalam komik ini juga mengandung unsur pornografi. gambar-gambar dan cerita-cerita yang kurang pantas secara akidah, moral dan kepribadian bagi anak-anak.
Bahkan beberapa di antaranya menggambarkan percintaan homo-sexual.

Komik porno sangat terjangkau bagi anak-anak karena hanya dijual dengan harga 3500 – 8000.
Bahkan di toko buku, komik-komik porno ini bisa dipajang di rak komik anak-anak lho. Bukan rak orang dewasa.
Bisa jadi anak Anda memiliki komik itu karena Anda yang tanpa sengaja membelikannya saat dia memilih komik tersebut di depan kasir saat ingin membayar belanjaan Anda.

5. Iklan
Iklan-iklan yang menampilkan adegan / foto yang gak patut dan gak nyambung juga sama barang yang dijual.
Coba ngajarin anak kita adegan-adegan anonoh, padahal dia jual mesin cuci.
Apa gak nggilani industri jaman sekarang ?
Cari perhatian kita dengan merusak masa depan anak kita.

Emang dimana sih anak-anak itu melihat film/foto/video ato maen games pornografi ?
Mencengangkan !
Karena paling banyak anak justru melihatnya di rumah sendiri / rumah sodara.
Ada juga yang melihatnya di bioskop *bisa-bisa justru diajak orang tuanya sendiri*, warnet dkk.

Hati-hati jika menyimpan terlebih lagi mengkoleksi Film ato Foto yang berbau pornografi.
Ah jadi inget waktu kasus Vokalis band ternama yang menjadi bintang utama Film Porno dengan beberapa artis. Banyak temen cowok gw yang mengirimkan link melalui laptop ato telephone genggamnya.
Niatnya sih mungkin biar eksis ngasih liat ke orang-orang di pabrik ” Mau liat gak ? Hah ? Baru versi LM ? Saya udah punya versi CT ”

Tapi kepikiran gak kalo kita sampe lalai menyimpan telepone genggam di rumah dan diakses anaknya, anak kita bisa saja melihat video ato foto tak senonoh tersebut.
Karena kenyataan dalam salah satu survei adalah anak mengaku menonton Film / melihat foto porno dari BBM Group mamanya dan video koleksi Mama.
Nah Lho! SKAK MAT! *eh kenapa bukan dari papa sih ?*
Apa karena Bapak-bapak gak punya BBG ?
Apa karena Bapak-bapak lebih pinter ngumpetin handphone nya ya ?

Dan ada yang mengaku dapet dari Hape supir lho.
Jadi jangan pernah merasa aman karena merasa anak kita dengan orang yang dekat kita.
Kita gak selalu tau pengaruh apa yang bisa dibawa oleh seseorang (walopun itu dekat dengan kita) terhadap anak kita.

Masalah pornografi bukan cuma masalah sosial di Indonesia, tapi juga menjadi masalah global. Masalah DUNIA.
Karena kerajaan bisnis dengan keuntungan dan penetrasi pasar paling baik saat ini adalah justru bisnis pornografi dan bisnis narkoba.

Dan para pelaku yang berada di belakang bisnis pornografi ini sudah memikirkan business plan secara matang untuk jangka waktu yang panjang.

Bayangin…business plan dan business mapping mereka.

Sebenarnya apa sih yang diinginkan sama para pelaku jaringan bisnis pornografi ini dari anak-anak kita ?

Menurut Mark B. Kastleman, penulis buku ” The Drug of The New Millenium ” (very recommended book)

1. Anak dan remaja kita memiliki perpustakaan porno
Jangan bayangkan ini berarti suatu ruangan nyata yang dipenuhi koleksi film-film porno, video-video ato buku-buku porno.
Jika cuma perpustakaan dalam bentuk begini, mungkin gak perlu waktu lama bagi kita memusnahkannya.

Coba,
Seberapa cepat, Anda bisa menghitung seperti ini :
10 X 5 = ?
100 + 100 = ?
200 – 50 = ?
300 : 6 = ?

Bagi yang sudah terbiasa belajar, berhitung dengan angka-angka, menjawab pertanyaan itu bukanlah hal yang sulit.

Mengapa ?
Karena sedari kecil otak kita sudah terbiasa dengan latihan kali, tambah, kurang, bagi.
Jadi setiapsaat, kapanpun kita memerlukan ‘jawaban’ perhitungan tadi, kita cuma perlu memanggil memory dalam otak kita dan menjawab pertanyaan tadi. Just like that!

Bayangkan, jika anak kita sedari kecil terbiasa melihat pornografi.
Memory dalam otaknya akan terus merekam dan merekam adegan, gambar pornografi tersebut.

Jadi kalo anak-anak nanti keseringan melihat pornografi, dia akan ketagihan untuk melihat dan pastinya tinggal memanggil kembali memory dalam otaknya untuk menampilkan adegan, foto, dari otaknya.
Memanggil referensi dari perpustakaan porno…di otaknya.
Kapanpun.
Dimanapun.
Setiap saat. Dimana saja

2. Kerusakan Otak Permanen
Dalam otak setiap manusia terdapat yang namanya ” Pre Frontal Cortex” yang berperan sebagai Direktur dari otak kita.
Fungsi Direktur inilah yang menjadikan manusia :
– Memiliki perencanaan masa depan
– Mengatur emosi tunda kepuasan : Kita jadi sadar bahwa kita harus melakukan kewajiban, sebelum mendapatkan hak
– Mengontrol diri kita : yang membuat Kita terus sadar jika kita melakukan hal-hal yang tidak benar, maka akan ada konsekuensinya terhadap kita sendiri
– Yang menuntun kita dalam mengambil keputusan

Biasanya Direktur dalam otak kita ini baru matang di usia 25 tahun.

Selain Direktur, ada lagi Dopamin dalam sistem Limbik (responder) di sistem otak kita.

Pernah ngerasain nyobain makan keripik pedas sarat MSG yang ada level-levelan itu gak ?
Waktu pertama kali ngerasain pedesnya keripik level 3 di lidah, mungkin kita akan shock ” Busyet, pedes banget!”.
Tapi efek pedas bercampur MSG itu akan memberikan sensasi yang dahsyat di lidah sehingga kita bukannya kapok malah kepingin nyobain lagi.

Besoknya kita akan penasaran pengen nyobain lagi, pengen ngerasain sensasi pedasnya. Gak puas hanya level 3, coba aaah level 5…

Makin dahsyat! Sensasinya meningkat! Makin pengen nyobain lagi…

Akhirnya kita nyobain level 10…nyobain level yang lebih tinggi, lebih tinggi dan lebih tinggi…

Seperti itulah para pelaku bisnis pornografi sudah memprediksi psikologis anak-anak saat melihat pornografi.

Yah, Dia akan shock –> Responder dalam otaknya kemudian mengeluarkan Dopamin –> Sehingga saat anak merasa BLAST (akan dibahas dibawah) –> timbul keinginan bagi si Anak untuk melihat pornografi itu lagi –> Dan dia akan merasa lebih baik setelah melihat lagi pornografi kembali.

Rasa ingin melihat terus, lagi dan lagi…sehingga rasa ketagihan ini akan terus melatih Responder dalam otak, memuaskannya dengan cara melihat pornografi lagi dan lagi.

Anak yang hanya terus menerus melatih responder nya, dan tidak pernah memfungsikan Direktur dalam otaknya, akibatnya fungsi Direktur akan terganggu dalam otak.
Porsi Direktur dalam otak mengecil.
Jika terus mengecil, maka anak akan mengalami kerusakan otak secara permanen.

Seorang Ahli Bedah Syaraf di USA, dr. Donald Hilton Jr pernah melakukan riset dengan MRI.
Bahwa kerusakan otak permanen yang disebabkan oleh ketagihan pornografi itu SAMA HANCURNYA seperti kerusakan otak seseorang yang ketabrak kontainer. *GLEK!*

Padahal fungsi Direktur dalam otak kita sangat penting.
Karena di situlah tempat moral dan nilai-nilai tanggung jawab kita sebagai manusia. Jika Fungsi Direktur dalam otak ini rusak, bisa dibayangin gak, gimana kita sebagai manusia bisa menjaga moral dan menjadi manusia yang bertanggung jawab ?

3. Anak-anak menjadi Pelanggan Pornografi = THEIR FUTURE MARKET ! *Sumpah, pengen gw bakar setan-setan ini!!!*
Setelah anak-anak mengalami kerusakan otak permanen, tentunya mereka gak kan punya kontrol lagi dalam hidup mereka.
Terus aja ketagihan akan pornografi ini.
Bahkan tega melakukan incest (melakukan hubungan intim dengan saudara sedarah).

Coba, kalo kita liat dalam siaran berita di Televisi, berapa banyak orang tua yang memperkosa anak kandungnya, kakak memperkosa adik kandungnya ?

Lalu, siapa yang menjadi target utama para pelaku jejaring bisnis pornografi ini ?

1. Anak laki-laki ! *kekep Athia*
Karena laki-laki memproduksi hormon testosteron lebih banyak daripada wanita! Mereka lebih gampang terangsang dibanding anak wanita!

2. Belum Baligh !

3. BLAST : Bored, Lonely , Angry , Stress, Tired
Maksudnya anak yang bosan, gak ada tujuan, gak tau musti ngapain.
Kesepian karena gak ada orang yang dekat dengan dia yang melimpahkan perhatian dan kasih sayang,
Marah karena kebutuhan dia akan kasih sayang tak terpenuhi,
Stress, yah kalo udah ngerasain keempat rasa tadi pasti setreslah
Akhirnya capek hati sendiri.

Sekarang, gimana kita bisa tau kalo anak kita kecanduan pornografi apa gak ?
Bagaimana deteksi dini nya ?

Ada 10 Ciri-ciri anak kecanduan pornografi

• Mudah haus dan tenggorokan kering
• Sering minum
• Sering buang air kecil
• Sering berkhayal
• sulit berkonsenterasi
• Jika bicara menghindari kontak mata
• Sering lama bermain PS dan internet
• Prestasi akademis menurun
• Main dengan kelompok tertentu saja
• Berprilaku aneh
Apa yang harus dilakukan jika Anda mendeteksi beberapa ciri-ciri tersebut ditemukan di perilaku anak Anda saat ini ?

1. TENANG
2. HINDARI MARAH ATAU PANIK
Karena jika Anda tidak menenangkan diri, maka Anda akan panik dan kemungkinan akan memarahi anak Anda.
Jika kita memarahi mereka, alih-alih anak akan kembali kepada kita. Kemungkinan besar anak akan semakin menjauhi kita.
Ini mengakibatkan akan semakin sulit bagi kita untuk merangkul anak kembali dan memberikan terapi ke anak.
3. Maafkan, minta ampun dan musyawarah.
Maafkan dia, buah hati kita.
Dia adalah anak kita yang saat ini sedang tersesat.
Dan dia membutuhkan bantuan kita. Secepatnya.

Cobalah bicara baik-baik dengan anak.
Jangan menyinggung soal kecurigaan kita tentang pornografi terlebih dahulu.

Dekatilah anak kembali dengan cara meminta maaf atas tingkah kita sebagai orang tua yang mungkin menyakiti dia, tidak berkenan di hatinya sebagai anak.
Biarkan anak melampiaskan semua emosinya kepada kita.
Biarkan saja. Jangan membalas, jangan membela diri.
Terima saja semua pelampiasan emosinya kepada kita.

Dengan begitu maka kita akan mendapatkan kembali “kepercayaan” dan “kedekatan emosi” dengan anak kita.
Ini akan jauh lebih mudah untuk kita memberikan terapi kepada anak.

Sebelumnya bicarakan juga hal ini dengan pasangan kita mengenai kecurigaan kita.
Jangan gunakan kalimat yang panjang-panjang.
Pilih waktu yang tepat untuk berdiskusi dengan pasangan.

Jika kita dan pasangan sama-sama sudah siap, barulah kita bicara dan minta maaf kepada anak kita. Saat minta maaf ke anak harus dilakukan BERDUA, Ayah dan Ibu. Karena yang salah dalam pengasuhan ini adalah BERDUA, bukan hanya Ayah, bukan hanya Ibu.

4. Perbaiki Pola Pengasuhan
Terapis terbaik untuk anak kita adalah : KITA, ORANG TUANYA SENDIRI!
Bukan psikolog A, B, C.

Rumuskan ulang tujuan pengasuhan kita seperti yang gw singgung di atas tadi.
Bahwa menyiapkan uang demi menyekolahkan anak di sekolah berkualitas BI, IB ato whateverlah memang penting, tapi itu bukanlah segalanya.
Bukan tujuan utama kita.
Itu cuma tujuan kita nomer kesekian sekian.

Karena ternyata sekolah yang berkualitas premium mungkin bisa dijadikan jaminan mencetak anak kita menjadi anak yang pintar secara akademis, belum tentu bisa menelurkan anak dengan moral dan iman yang bagus.
Makanya jangan menyerahkan semua pendidikan dan pengawasan anak kita semata-mata pada sekolah yang keliatannya bagus!

Orang tua juga harus memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Makanya ayah dan ibu harus bikin komitmen untuk DUAL PARENTING.
Bahwa tanggung jawab mengasuh anak ini adalah tanggung jawab Ibu dan Ayah.
Bukan cuma Ibu saja yang harus memikul tanggung jawab besar ini.
Ayah pun kelak akan dituntut pertanggungjawabannya oleh Allah SWT, karena anak adalah titipan-Nya.

Ayah juga harus memainkan peran yang sama besarnya dengan Ibu.
Karena ternyata peran Ayah dalam perkembangan anak tidak bisa dipandang sebelah mata.

Jika seorang anak perempuan kurang merasakan peran ayah dalam kehidupannya, maka dia akan menjadi anak yang mudah depresi dan cenderung lebih mudah terjerumus dalam pergawulan bebas.

Kenapa ?
Karena dia tidak mendapatkan belaian kasih sayang dari figur Ayah, sehingga dia mencari figur itu di laki-laki asing lainnya. Belaian laki-laki lain.

Mengasuh anak perempuan tentunya tidak sama dengan mengasuh anak laki-laki.
Itulah mengapa peran Ayah juga berperan sangat penting untuk perkembangan jiwa seorang anak laki-laki. Karena Ayah akan memberikan contoh, role model bagaimana kehidupan seorang laki-laki.

Kalo terus-terusan ngintilin ketek emak, maka sedikit banyak tingkah laku dan karakter anak laki-laki akan condong ikut ibunya.
Demen Salon, kumpul-kumpul ngerumpi, suka bergosip, feminim, cerewet kayak emaknya. :p
Lah yang dia liat tiap hari figur emaknya. Kemanakah Ayahnya ?

Lagipula jika Ayah kurang mencurahkan perhatian ke anak laki-lakinya, maka besar kemungkinan anak laki-laki tersebut akan terjerumus ke narkoba, seks bebas, nakal dan agresive. Dia melakukan itu untuk mencari perhatian Ayah nya.

Jangan lupa berikan penerimaan, penghargaan dan pujian kepada anak.
Jika kita ingin menegur anak yang berbuat salah, tolong jaga harga dirinya di depan orang lain. Jangan umbar aib anak kita di depan publik ato orang lain, karena itu akan meruntuhkan harga dirinya.

Janganlah kita menegur apalagi memarahi kesalahannya di depan orang lain.
Hancur harga diri dan hati anak kita.
Kita aja kadang gak mau ditegur ato diomelin Boss di depan orang lain.
Apalagi buah hati kita.

Begitu sebaliknya, jika anak melakukan sesuatu yang so sweet, berikanlah pujian kepadanya agar timbul rasa percaya dirinya.

Coba deh tanya pada diri masing-masing, apa susahnya sih jika orang tua obral pujian kecil seperti ” Aduh pinternya anak mama…”, ato ” Cantik bener anak papa…” ?

Kecil tapi artinya sangat besar sekali lho dalam perkembangan jiwa anak.
Anak merasa diterima, dihargai dan rasa percaya diri bahwa dia disayang dan diperhatikan oleh orang tuanya menjadi menebal.

Setelah ke-empat langkah tadi sudah Anda lakukan dengan baik, kemudian hubungan emosi antara Anda dan anak anda menjadi semakin dekat, barulah Anda melakukan langkah selanjutnya.

1. Cari tau penyebab anak memulai pornografi
Jangan menginterogasi anak kita seakan-akan dia tersangka dalam ruang polsek. Cobalah ajak bicara baik-baik dalam suasana santai. Biasanya cara seperti ini lebih efektif dan anak lebih santai untuk mengemukakan lebih banyak informasi yang kita butuhkan.
Siapa yang ngajarin anak kita ngeliat pornografi? Dapat darimana sih film/komik/DVD porno ? Gimana awalnya dia bisa ikut terjerumus?
Jawaban anak Anda mungkin tidak pernah Anda duga sebelumnya.

2. Selesaikan hal-hal yang menyangkut emosi dan harga diri, maka kecanduan pun akan menurun.

3. Jelasin Target Penyedia Pornografi seperti yang gw rangkum tadi

4. Abis itu jangan lupa tanya pendapat dia.
Ini penting!
Dengan begitu dia akan merasa bahwa dia juga didengarkan pendapatnya.
Merasa dihargai dan dia akan lebih terbuka.
Lagipula kita justru ingin tau lebih banyak dari sisi anak kan ?

5. Susunlah langkah yang akan dilakukan bersama dan bangun kerja sama yang baik antara anak dan orang tua
Bikinlah kesepakatan apa yang akan Anda lakukan bersama Anak jika rasa ketagihan untuk melihat pornografi itu muncul kembali di diri sang anak.
Alihkan rasa ketagihan itu dengan melakukan aktivitas yang lain.

Dan dalam masa terapi ini, Anak harus selalu didampingi oleh salah satu orang tua. Baik Ayah atau ibu. Bukan pengasuh. Bukan nenek/kakeknya. Wong dibawah bimbingan dan pengawasan mereka selama ini bisa kebablasan kok.

Jika ternyata Ibunya juga seorang working mom, silahkan musyawarah dengan pasangan, siapa yang akan melepaskan pekerjaan untuk mendampingi anak full time. Bisa Ayah, ato Ibu.

6. Sepakati langkah agar anak dapat menghadapi kecanduannya, menggantikannya dan mengalihkannya bersama orang lain.

Ada delapan hal yang bisa bermanfaat untuk membantu anak dalam proses terapi ini:
• Jangan fokus pada aspek prestasi akademik semata : PLIS, Saat ini kita hanya fokus pada penyembuhan kecanduan anak dari ancaman kerusakan otaknya !
• Aktif dalam menggunakan teknologi media
• Komunikasi dan disiplin yang berbeda, yaitu dengan kasih sayang
• Perkuat keimanan dalam diri anak. Bicarakan tentang memelihara kesucian sampai menikah nanti. Ini berlaku untuk anak perempuan dan juga anak laki-laki.
• kemampuan berpikir kritis
• Konsep dan harga diri yang baik
• Mandiri dan bertanggung jawab
• Do’a.
Kita bukannya menutup diri dari technology lho. Jelas kita harus memanfaatkan technology ini dalam kehidupan kita. Wong technology harusnya mempermudah kehidupan kita kok.

Tapi bagaimana kita seharusnya lebih bijak dalam menyikapi technology ini di kehidupan kita.
Apapun yang kita sodorkan ke anak kita, pastikan kita tau tujuannya
Pastikan itu sesuai dengan perkembangan usianya
Pastikan itu sesuai dengan akidah agama yang kita anut
Pastikan itu sesuai dengan norma susila yang berlaku dalam lingkungan kita
Pastikan kita tau apa yang sedang kita lakukan, bukan hanya sekedar ikut-ikutan ato gak mo kalah gengsi…

Akhirnya selese juga gw memaparkan apa yang gw serap selama seminar session 1.
Yah mungkin gak semuanya bisa tertuang di sini mengingat keterbatasan space di blog dan memory di otak. LOL.

Seperti biasa setelah ikut seminar Bu Elly Risman, langsung nyes JLEB JLEB di hati gw.
Jangan sampe gw menjadi orang tua seperti yang disindir lagu Bimbo :
Bermata tapi tak melihat,
Bertelinga tapi tak mendengar,
Berhati tapi tak merasa

Mengasuh anak-anak kita zaman sekarang jauh LEBIH MENANTANG, LEBIH BERAT dibanding saat orang tua kita mengasuh kita.
Kenapa ?
Karena anak-anak generasi Z ( lahir 1994 – 2009) ini lahir di saat semua yang menuntut serba cepat, serba instant, serba multitasking dan semua seakan-akan penuh kesenangan.

Friends of mine sering bilang ” It takes a village to raise a child ”

Kalo versi gw sebagai orang tua selama 3 tahun 5 bulan,
Being a parent is a very challenging job with a great responsibility.
We are responsible for all ” Tujuan Pengasuhan Anak ”
We are directly responsible to Allah SWT, dimana kelak kita pasti diminta pertanggungjawabannya sebagai orang tua si Pulan
Terikat kontrak selama 24 jam, 7 hari seminggu, 365 hari setahun dan status kontrak baru berakhir saat kita menutup mata…

Maaf, tapi gw gak setuju dengan statement bahwa menjadi orang tua itu adalah unpaid job.
Menurut gw, menjadi orang tua itu malah well-paid.

Makanya seberat apapun tantangan yang akan dihadapi menjadi orang tua, hampir semua pasangan dengan sukarela melamar profesi ini.

Well-Paid.
Tidak dibayarkan mingguan, bulanan, tiga bulanan ato tahunan.
Tapi semua itu akan kita redeem …
pada saat kita menangis terharu,
saat kita tersenyum bangga melihat semua tujuan pengasuhan anak kita tercapai…
Saat kita masih mendengarkan sederetan do’a tulus keluar dari anak yang sholeh dan sholehah memohon ampunan untuk kita, orang tuanya…

Saat itulah setiap butir airmata bahagia yang menetes tak ternilai harganya…
Gak bisa dinominalkan dengan sederet angka,
Gak bisa digrammatir dengan berat Logam mulia 24 karat

Tetesan airmata bahagia dan senyum bangga itu adalah bayaran yang sangat worth it, luar biasa besarnya…
Yang gak bisa dicapai dengan investasi jenis apapun,
Kecuali investasi bagaimana kita membesarkan dan mendidik anak kita….

Semoga kita selalu menjadi orang tua yang meredeem semua buah baik dari hasil pengasuhan anak kita…

Semoga apa yang gw share di blog ini bermanfaat bagi yang baca demi menyelamatkan anak kita, keponakan kita, adik kita, sepupu kita.
Karena mereka buah hati kita, harapan kita, darah daging kita
Karena mereka adalah masa depan Bangsa kita…

Speak Your Mind

*